Peran Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak Melalui Aturan Sekolah
Belakangan ini kita sering mendapati berita mengenai berbagai bentuk perilaku negatif dari remaja, seperti perkelahian, ikut dalam geng motor, penggunaan narkoba secara tidak wajar, serta pelanggaran aturan sekolah seperti membawa rokok atau alat vape ke sekolah, datang terlambat, tidak menyelesaikan tugas, berpakaian tidak sesuai ketentuan, berdandan berlebihan, bersikap kasar, tidak sopan, bahkan menolak ketika diminta oleh guru.
Dalam membentuk kepribadian anak, sekolah tidak mungkin bekerja sendirian. Peran orang tua di rumah sangat penting dalam memperkuat, mendukung, serta memberikan teladan nyata mengenai kasih sayang, tanggung jawab, disiplin, dan kepastian.
Pendidikan bukan hanya tanggung jawab dari sekolah, tetapi juga keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak. Partisipasi orang tua dalam mendampingi, memberi nasihat, dan memandu anak memiliki dampak besar terhadap pembentukan kepribadian, prestasi, serta sikap disiplin siswa.
Kewajiban orang tua tidak hanya memasukkan anak ke sekolah, tetapi juga:
1. Membentuk karakter anak melalui penerapan nilai moral dan ajaran agama (kejujuran, tanggung jawab, kebenaran, keadilan, disiplin, kesederhanaan, serta sikap sopan kepada sesama)
2. Menjadi contoh teladan di rumah
3. Memandu dan Mengawasi interaksi anak
4. Bekerja sama dengan institusi pendidikan agar anak berkembang menjadi individu yang berbudi luhur.
Dalam kehidupan, setiap individu pasti tidak bisa terlepas dari adanya aturan atau peraturan. Baik di lingkungan masyarakat, tempat bekerja, maupun di dalam rumah tangga juga terdapat aturan yang harus diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
Aturan sekolah bukan hanya sekadar daftar larangan atau sanksi. Ia menjadi jembatan untuk membantu anak-anak belajar menghargai waktu, menghormati, menghargai sesama, menjaga sikap, kebersihan, kerapihan, serta memahami batasan. Karena kelak, dunia luar jauh lebih keras dibandingkan ruang kelas.
Selain itu, aturan sekolah juga mengajarkan tentang KESEDERHANAAN, KESETARAAN (semua siswa sama), menjaga keselamatan, serta menciptakan rasa nyaman dan aman bagi seluruh siswa.
Misalnya, mengenai larangan siswa membawa sepeda motor ke sekolah, memakai knalpot bising, jam malam untuk anak, senjata tajam, dan sebagainya. Tujuan dari hal ini adalah memberikan kenyamanan dan keamanan bagi seluruh siswa, serta menciptakan ketenangan bagi masyarakat sekitar.
Demikian pula aturan pakaian atau seragam lainnya tidak hanya berkenaan dengan penampilan, tetapi bertujuan untuk mengajarkan siswa tentang kesederhanaan, kesetaraan, kerapian, dan kebersihan.
Sebagai orang tua, kita memiliki hak serta tanggung jawab untuk memastikan anak-anak kita mengikuti aturan sekolah dan menjaga agar anak berada dalam lingkungan yang aman serta terarah.
Salah satu bentuk perhatian tersebut adalah dengan secara rutin memeriksa tas, ponsel, atau kondisi kamar mereka.
Bukan karena tidak percaya, melainkan karena kita memiliki kepedulian dan ingin menjaga mereka. Kami berharap mereka terhindar dari hal-hal yang bisa merugikan, seperti narkoba, pergaulan yang tidak sehat, atau paparan materi negatif di media sosial.
Tindakan kecil semacam ini mampu menjadi perlindungan yang kuat bagi keselamatan dan masa depan mereka.
Orang tua dan guru perlu berada di posisi yang sama. Bila orang tua dan guru bekerja sama, anak-anak kita akan berkembang menjadi individu yang utuh, cerdas, berintegritas, dan penuh kasih.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah kamu berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikanmu kepadanya serta ketaatannya kepadamu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).*
Ditulis oleh: Jahar Qaulani, S.Psi
Guru Bimbingan Konseling SMKN 3 Baleendah
Sumber:
