Gedung Joang ’45, dari Hotel Favorit Belanda menjadi Tempat Lahirnya Semangat Kemerdekaan Indonesia
MI – Gedung Joang ’45, yang kini menjadi Museum Joang 45 di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bukan sekadar bangunan tua. Tempat ini pernah menjadi pusat penggemblengan para pemuda revolusioner yang kelak memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia. Edukator Museum Joang 45, Muslim, mengungkapkan bahwa gedung ini memiliki sejarah panjang, dimulai sejak awal abad ke-20, bahkan sebelum kemerdekaan diproklamasikan.
Dari Kawasan Elite Menteng hingga Hotel Favorit Pejabat Belanda
Sejarah Gedung Joang ’45 dimulai dari kawasan Menteng yang pada tahun 1912 mulai ramai dihuni oleh para pejabat dan pedagang asing. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengembangkan kawasan ini menjadi perumahan elit dengan konsep taman di dalamnya.
Salah satu bangunan yang berdiri pada masa itu adalah Hotel Schomper, didirikan pada tahun 1930 oleh pengusaha Belanda L.C Schomper. Hotel ini menjadi tempat favorit para pejabat Belanda karena fasilitasnya yang memadai dan lokasinya yang strategis.
Dikuasai Jepang dan Diserahkan kepada Pemuda Indonesia
Saat Jepang menduduki Batavia, seluruh aset Belanda, termasuk Hotel Schomper, diambil-alih. Gedung ini kemudian diserahkan kepada Sendenbu, badan propaganda Jepang, sebelum akhirnya diberikan kepada para pemuda Indonesia.
“Yang dahulu adalah Hotel Schomper menjadi Asrama Angkatan Baru Indonesia pada tahun 1942,” kata Muslim kepada, Kamis (14/8). Di sini, para pemuda seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, dan M. Hanafi dibentuk semangat nasionalisme.
Meskipun awalnya digunakan Jepang untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya, para guru bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebardjo, dan M. Yamin memanfaatkan kesempatan ini untuk menanamkan cita-cita kemerdekaan.
Markas Aksi dan Perencanaan Rapat Raksasa Ikada
Setelah Jepang membubarkan Asrama Angkatan Baru Indonesia pada tahun 1943, gedung ini menjadi kantor Pusat Tenaga Rakyat (PUTRA), kemudian markas Jawa Hokokai. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, para pemuda kembali menguasainya.
Bangunan ini menjadi pusat kegiatan kelompok muda Menteng 31 dan Cikini 71, termasuk merancang Rapat Raksasa Ikada pada 19 September 1945 yang mengumpulkan puluhan ribu rakyat dengan para pemimpin bangsa.
Kini menjadi Museum Edukasi Kemerdekaan
Sejak 1974, bangunan bersejarah ini secara resmi menjadi Museum Joang 45. Koleksi utamanya menampilkan dokumentasi perjuangan kemerdekaan, profil para pejuang muda, relief golongan tua dan muda, serta peninggalan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
“Kita juga sekarang punya ruang imersif danpemetaan video,” kata Muslim. Ikon museum ini adalah tiga mobil presiden yang pernah digunakan Bung Karno dan Bung Hatta. Menurut Muslim, peran Gedung Joang 45 sangat vital.
“Sangat penting karena disinilah tempat digemblengnya para pemuda-pemuda radikal seperti Tuan Soekarni, Tuan Chaerul Saleh, Tuan Adam Malik, terus juga Tuan M. Hanafi dan lain sebagainya,” tegasnya.
Info Kunjungan
Museum Joang 45 buka Selasa–Minggu pukul 09.00–15.00 WIB. Harga tiket mulai Rp 5.000 untuk pelajar/mahasiswa, Rp 10.000 untuk umum di hari kerja, dan Rp 15.000 di akhir pekan. Rombongan minimal 30 orang mendapat diskon 25 persen.
Pengunjung dapat menikmati fasilitas ruang imersif secara gratis. Pada akhir pekan, museum ini dapat dikunjungi oleh 50–100 orang per hari, sementara kunjungan rombongan bisa mencapai 200 orang.
