H. Mukhaelani, SPd, M.Pd, Bekerja Sebagai Ibadah
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mesti harus bekerja. Hal itu sebagai usaha untuk memenuhi kebuhtuhan hidup. Tak jarang orang bekerja keras agar dapat mencapai apa yang diinginkan. Bekerja keras membanting tulang, begitu kata pepatah. Bisa jadi kemampuan dan keterbatas yang dia punyai dapat dilupakan.

Kalau ini yang terjadi kerugian bisa jadi justru yang didapat. Untuk itu kita perlu sekali mengingat dan memperhatikan kemampuan tidak hanya berusaha mencapai kemauan saja. Begitu di antara yang dituturkan seorang Pendidikan asal Tegowanu Kabupaten Grobogan ini.
Guru yang selalu berpenampialan sederhana ini banyak menuturkan tentang jatidiri manusia dalam berkiprah dalam kehidupan sehari-hari. Penampilannya yang sederhana sudah ditampakkan sejak masih anak-anak. Bahkan dituturkan kalau dia itu wakttu bersekolah dulu postur tubuhnya sangat kecil dan dalam kehidupan yang penuh kesederhanaan.
Pada suatu acara reuni di sekolahnya yaitu di SMP N 1 Gubug dia banyak membuat teman-temannya tercengang. Kita semua tau kalau reuni itu merupakan kegiatan yang menyenangkan, karena dapat bertemu dengan teman-teman yang sudah lama berpisah padahal dulu pernah demikian akrab dalam berbagai kegiatan. Di antara kegiatan itu adalah belajar di sekolah. Seringkali dalam reuni sudah tidak mengenal wajah masih masing teman. Namun ketika dijelaskan tentang identitas masing-masing, gelak tawa dan saling peluk tak terhindarkan karena rasa kangen. Namun ada juga yang sulit dipercaya tentang keberadaan dan keadaan seorang teman. Itulah dia, tutrnya menandaskan.

Yang saat itu memang sulit dipercaya ketika memperkenalkan diri kepada teman-teman. Ketidak-percayaan teman-teman terhadap dirinya adalah karena postur tubuhnya yang sangat berbeda. Ketika belajar di SMP dulu, dia terkenal dengan siswa yang berpostur tubuh sangat kecil, karakternya pendiam dan tidak banyak dikenal.

Prestasi akademiknyapun tidak begitu bagus. Di kelas 1 SMP di awal tengah semester hanya menduduki rangking ke 16 dari 40 siswa. Sebuah prestasi yang tidak begitu bagus, tapi juga tidak jelek-jelek amat. Karena merasa bukan sebagai anak yang pintar, dia berkeinginan untuk meningkatkan prestasi. Langkah yang dia tempuh adalah dengan memperbanyak kapasitas belajar, yaitu mencatat, membaca, dan berlatih. Yaitu kalau teman-teman yang cerdas dengan membaca satu atau dua kali sudah paham, karena merasa kurang cerdas dia lakukan dengan membaca tiga atau empat kali untuk materi yang sama.

Demikian juga dengan mencatat, dia lakukan dengan senang hati dan penuh semangat, tuturnya bercerita tentang masa kecilnya.
Tentang karakter dia saat belajar di SMP, bukan hanya itu, bahkan cengeng juga melekat pada pribadi dia. Namun dia tetap merasa tegar, bersekolah dengan jalan kaki sejauh 3,5 km dari rumah tetap dia jalankan. Padahal kondisi jalan sangat memprihatinkan, yaitu becek berlumpur di musim penghujan, kepanasan di musim kemarau adalah kondisi setiap harinya. Padahal pelajaran yang dia ikuti bukan hanya di SMP.
Sepulang dari belajar di SMP yang berjalan kaki sejauh 3,5 km, tiba di rumah jam 14.15 masih dilanjutkan belajar di Madrasah Diniyah yang masuk jam 14.30. Sebenarnya jam masuk di Madrasah Diniyah adalah jam 14.00, namun karena demikian bijaksananya guru-guru madrasah memberi kelonggaran masuk jam 14.30. Sampai jam 17.00 dia bersama teman-teman belajar di madrasah. Kemudian istirahat sejenak, mandi dan dilanjutkan kegiatan mengaji di masjid setelah sholat berjamaah. Berikutnya dilanjutkan sholat Isya’ dan baru belajar alakadarnya. Dia katakan belajar alakadarnya karena ketika itu dia lakukan di serambi masjid bersama teman-teman. Tidurnya pun di masjid atau di lantai dua madrasah yang lokasinya di depan masjid. Ketika waktu Subuh tiba, kamipun bangun dari tidur. Kemudian sholat berjamaah, mengaji, pulang, sarapan dan berangkat sekolah. Demikian dia lakukan tiap hari. Akhirnya lulus SMP dengan prestasi yang cukup lumayan bagus. Itu sebagai hasil kerja keras dan ketelatenan dia dalam belajar. Yaitu karena merasa berkemampuan sedang-sedang saja sehingga harus melakukan kegiatan belajar lebih banyak dari pada teman-teman lain yang berkemampuan tinggi.
Karena bercita-cita menjadi guru dia mendaftarkan diri masuk SPG. Namun nasib kurang baik. Dia dinyatakan tidak diterima. Alasan tidak diterima dia tidak tahu persis, walaupun prestasi akademik dia saat itu cukup lumayan bagus. Yang membuat dia agak kecewa adalah ketika dia mencuri dengar dari pembicaraan guru penguji saat itu adalah karena postur tubuh dia yang terlalu kecil. Dikhawatirkan dia ditertawakan muridnya nanti kalau berdiri di depan kelas. Memang saat itu juga benar, ketika dia diminta berjalan di depan kelas di hadapan para guru SPG yang bertugas sebagai panitia penerimaan siswa baru, dia sempat ditertawakan karena postur tubuh dia yang sangat kecil. Sehingga, wajar kalau dia banyak tidak dikenal oleh teman-teman saat reoni beberapa yang waktu yang lalu.
“Kok Iso Gede ya……??” (Kok bisa besar ya …..?) Komentar seorang teman dengan penuh keheranan dan sedikit mengejek terhadap postur tubuh dia. Mendengar komentar itu dia hanya tersenyum geli dan tidak banyak berucap.
Ada juga yang komentar lain. “Kok Ya iso dadi kepala Sekolah, padahal dulu gembeng, sering nangis” (Kok Ya bisa jadi Kepala Sekolah, padahal dulu cengeng , sering menangis”.
Dari sekian teman itu dia termasuk yang diminta banyak cerita kepada mereka. Diapun bercerita. Yaitu setelah lulus SMP dulu, dia melanjutkan sekolah di SMEA karena saat itu tidak diterima di SPG karena postur tubuh yang terlalu kecil. Baru setelah lulus SMEA dia melanjutkan kuliah di IKIP. Namun karena orang tua tidak berkemampuan untuk membiayai, dia bekerja dulu. Dia teringat saat itu bapak dia malah menangis ketika dia mohon doa restu ingin kuliah. Beliau merasa keberatan dengan biaya. Dia masih punya dua adik yang masih harus butuh biaya. Padahal bapak saat itu punya prinsip, Anak-anak harus sekolah. Semboyannya adalah : “dienggo nyekolahke anak ya ora mlarati, ora nyekolahke anak ya ora nyugehi” (Dipakai untuk menyekolahkan anak ya tidak membuat miskin tidak digunakan untuk membiayai pendidikan anak ya tidak membuat kaya). Itulah prinsip bapak, anak harus bersekolah. Tapi setelah akan memasuki jenjang di perguruan tinggi beliau terasa berat. Saat itu biaya pendidikan harus ditanggung sepenuhnya oleh orang tua. Belum ada program bidik misi seperti sekarang, beasiswa juga belum banyak.
Syukur Alhamdulillah perlu dia panjatkan saat itu. Karena, begitu lulus SMEA dia diterima bekerja sebagai staf Tata Usaha di Yayasan Sosial Islam Hasan Anwar Gubug. Yaitu yayasan yang menyelenggarakan sekolah tempat dia belajar. Gajinya dia ingat, yaitu Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) per bulan. Dari gaji yang tidak banyak itu dia tabung sampai satu tahun. Namun tidak lupa dia berikan sebagian untuk Ibu agar bisa untuk menambah uang belanja kebutuhan dapur. Tidak banyak memang yang dia berikan, tapi dari raut wajah Ibu mencuat rasa gembira. Dan, itu yang membuat dia lebih bersyukur. Menjelang tahun ajaran baru, dia secara diam-diam tanpa bilang kepada orang tua, dia mendaftarkan ikut tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Singkat cerita dia diterima di program S-1 jurusan Administrasi Perkantoran IKIP Negeri Semarang. Harapan dia, nanti kalau sudah lulus, atau bahkan belum lulus bisa mengajar di sekolah tempat belajar dulu, yaitu SMEA, yang saat itu dia bekerja sebagai staf Tata Usaha di Kantor Yayasannya.
Perkuliahanpun dia ikuti sebagai mana mestinya seperti teman-teman. Namun menyadari karena keterbatasan dana dari orang tua dia berusaha menggunakan ilmu yang dia peroleh dari SMEA dulu. Langkah yang dia lakukan adalah dengan berjualan tempe keripik di sela-sela kegiatan kuliah. Jadi, setiap hari Minggu sore, dia berangkat dari rumah dengan membawa piranti kuliah ditambah barang bawaan dalam kardus besar yang berisi tempe keripik. Seringkali ditanya oleh kondektur bus tentang barang bawaan dia tersebut, karena dia menjaganya dengan penuh hati-hati. Hal itu karena khawatir kalau isinya hancur (remuk) bisa jadi tidak laku, dan dia tidak jadi memperoleh uang. Setelah terbiasa, kondektur bus pun kenal dan selalu memaklumi kondisi dia tersebut. Saat itu dia teringat uang saku yang dia bawa untuk berangkat kuliah ke semarang, yaitu Rp 500,- (Lima ratus rupiah) Tiga ratus lima puluh untuk transport bus Gubug-Semarang, Seratus duapuluh lima rupiah untuk angkot ke tempat Kos. Yang duapuluh lima rupiah untuk membeli lauk makan malam. Sedang makan besok pagi selama seminggu harus berfikir dan dengan menjual dagangan berupa tempe keripik tersebut bisa. Sehingga, setelah sampai di rumah kos segera dia keliling menawarkan ke warung-warung makan di sekitar, termasuk di kantin kampus tempat para mahasiswa makan. Setelah rutin dia lakukan ibu-ibu pedagang di kantin kampus akhirnya kenal dan tahu kalau dia mahasiswa di kampus tersebut. Hanya saja banyak teman-teman yang heran. Kalau teman-teman masuk duduk di kantin tersebut untuk makan dan minum, tapi kalau dia hanya menyetorkan barang dagangan dan menarik uangnya. Bahkan seorang mahasiswa ada yang komentar, “Wah enak bu, tempe keripiknya, dari mana bu ?”
Ibu penjual di kantin yang ditanya hanya tersenyum dan melirik dia. Kemudian dia isyaratkan satu jari berdiri di depan bibir dia menandakan untuk tidak bicara. Ibu itupun kembali tersenyum sambil berkata, “ Ya sudah, silahkan dinikmati”
Demikian tiap hari Ketika memasuki semester tiga terjadi permasalahan dalam proses belajarnya. Bapaknya menyatakan keberatan dalam pembiayaan, terlebih kalau harus sampai lulus S-1. Setelah berfikir panjang, dia dapat jalan keluar. Solusinya adalah dia mengajukan permohonan kepada pimpinan Perguruan Tinggi untuk pindah jenjang studi. Yaitu yang semula di jenjang S-1 pindah ke jendang D-2. Harapannya adalah dia segera lulus dan bisa bekerja. Lebih berharap lagi begitu lulus D-2 langsung dapat memperolehh ikatan dinas sebagai guru. Proses perpindahan jenjang pun segera dia urus, dan akhirnya berhasil. Dia kuliah pindah ke jenjang D-2. Sehingga, satu tahun berikutnya dia wisuda di jenjang D-2.
Walaupun hanya lulus D-2, dia sudah sangat bersyukur. Bahkan Ibu dan bapak juga terlihat bahagia ketika menghadiri wisuda dia. Namun demikian karena banyaknya wisudawan saat dia tidak bisa bertemu langsung mendekat orang tua. Jangankan foto bersama, bersalamanpun tidak bisa. Dia berangkat sendiri sore harinya, Sedang beliau berdua berangkat naik angkutan umum pagi harinya. Dia ‘bertemu’ beliau berdua saat wisuda hanya dengan melambaikan tangan dari kejauhan, ketika dia berjalan memasuki ruang wisuda, yaitu di GOR Jawa Tengah di utara simpanglima Semarang, yang sekarang sudah tinggal kenangan. Walaupun dari kejauhan, dia tahu beliau berdua sempat menngusap air mata begitu menjawab lambaian tangannya. Begitu prosesi wisuda selesai, dia berusaha mendatangi tempat duduk beliau berdua namun sudah tidak ada, dan berusaha mencari sekitar lokasi namun sampai habis orang tidak juga dia temui.
Setelah sampai di rumah dia tanyakan ibu, ternyata beliau begitu selesai langsung pulang, karena sejak pagi belum sarapan, dan uang yang dibawapun hanya pas untuk transport berangkat dan pulang dari Gubug ke Semarang. Ijazah dan foto dengan dekan dia tunjukkan kepada Ibu dan bapak di rumah. Tetesan air mata tidak dapat dihindari.
Berikutnya dia berharap segera bisa jadi guru mengajar di SMP. Namun demikian ternyata saat itu ada keputusan dari pemerintah bahwa lulusan D-2 khususnya jurusan atau bidang studi dia, termasuk yang tidak lanngsung diangkat jadi pegawai negeri seperti dulu. Agak gundah memang dia saat itu. Namun dia tetap berusaha tegar berusaha mencari sekolah swasta untuk dapat dijadikan sebagai pengabdian menjadi guru. Banyak surat lamaran dia sebarkan ke berbagai sekolah di sekitar tempat tinggal. Tak jarang di antara sekolah itu yang langsung dengan terang-terangan menolak. Namun ada juga yang mau menerima tetapi tidak ada jam mengajar untuk dia. Sehingga dia hanya dijanjikan surat keterangan pengabdian atau pengalaman mengajar sekiranya nanti dibutuhkan. Dia tidak mau cara itu karena termasuk bohong. Setelah banyak sekolah dia datangi, ternyata hanya MTs Yaspia Ngroto Gubug yang mau menerima dia sebagai guru. Jarak sekolah dari rumahnya itu adalah 9 km. Jarak itu dia tempuh dengan mengendarai sepeda onthel. Karena masih harus menyeberang sungai Tuntang, sepeda dia panggul sambil menyeberang Sungai dengan naik perahu. Begitu tiap pagi dan pulangnya. Begitu setiap hari aktifitas itu secara rutin rutin dia jalankan.
Di sisi lain dia punya hobi fotografi. Jadi setiap saat berangkat dan pulang mengajar dia selalu menenteng kamera. Dalam perjalanan mengajar itu kalau menemui obyek yang mengandung nilai jurnalistik akan dia bidik. Hasilnya dia kirimkan di redaksi Koran. Dari situ dia bisa memperoleh hasil tambahan. Beberapa tahun berikutnya dia berkesempatan melanjutkan kuliah S-1. Namun demikian masih tetap mengajar di MTs Ngroto. Bahkan juga masih ikut mengajar di madrasah Diniyah Polaman Jatipecaron Gubug dan belajar (mengaji) di Pesantren desa Genggang. Pernah suatu hari aktifitas dia dari mengajar yang semestinya masuk jam 07.00 tapi karena akan kuliah siswa dia ajak masuk jam 06.30. Ternyata mereka juga mau. Sehingga jam 08.00 dia tinggalkan karena dia harus kuliah di Sekaran, Sematang masuk jam 10.00. Selesai kuliah pulang ke kampung, jam 14.00 harus mengajar di madrasah diniyah kemudian sore berangkat ke Genggang untuk mengaji di Pesantren. Demikian dia jalani aktifitas itu, termasuk menulis di koran-koran lokal. Sebelum lulus S-1, kembali mendapat cobaan, yaitu bapaknya meninggal dunia. Hampir saja kuliah putus. Namun demikian Alhamdulillah, masih mendapat pertolongan dari Allah SWT. Dia diminta mengajar mengaji kepada anak-anak di sebuah Masjid di Semarang. Tugas pokok dia saat itu adalah menjaga keamanan dan kebersihan masjid dan mengajar anak-anak untuk mengaji. Namun demikian kalau sudah waktunya sholat berjamaah belum ada yang adzan, dia juga yang mengumandangkan adzan dan iqomat. Bahkan, kalau imamnya berhalangan, dia juga harus bisa menggantikan sebagai imam. Tugas pokoknya memang menjaga kebersihan alias jadi tukang pel masjid.
Akhirnya lulus S-1 dan bisa diterima sebagai CPNS. Tugas pertamanya di SMP N 13 Semarang. Sedang sebelumnya, setelah dari MTs Yaspia Nroto dia sempat mengajar di SMEA tempat dia belajar dulu. Namun setelah bertugas di Semarang, dia sudah tidak bisa lagi sambil mengajar di sekolah swasta yang sudah banyak memberi dia berbagai pengetahuan dan pengalaman di bidang pendidikan tersebut. Yaitu dari dia sekolah, bekerja menjaadi staf Tata Usaha, menjadi guru dan tugas lainnya.
Selama enam tahun dia bertugas mengajar di SMP 13 Semarang. Saat itu tiap hari jam 05.15 harus berangkat, karena kalau kesiangan sedikit saja, jalanan macet bisa terlambat. Hobi di bidang jurnalistik masih tetap berlanjut. Bahkan sempat menjadi reporter tabloid pendidikan di Jawa Tengah. Kemudian dia bisa tugas di daerah sendiri, yaitu SMP N 2 Tegowanu Grobogan. Selama sebelas tahun bertugas di sekolah yang hanya berjarak 3,7 km dari rumahnya. Tugas di SMP ini dia jalani sebagai mana biasa. Prestasi kerjapun dia rasa hanya biasa-biasa saja. Kalau ditugasi ikut lomba guru berprestasi juga tidak pernah menang. Sehingga ketika mendapat kesempatan ikut tes seleksi calon kepala sekolah ya dia ikuti dengan biasa tanpa keinginan yang berlebihan. Karena yang lebih senior tidak ada yang mau ikut karena berbagai hal, akhirnya dia ikut dengan maksud menjaga nama baik dan hati pimpinan, kalau sampai sekolah tidak ada yang ikut seleksi.
Tes atau seleksi calon kepala sekolah yang saat itu dianggap sebagai hal yang sakral dan hebat, tapi dia ikuti dengan biasa-biasa saja, tanpa beban dan keinginan yang muluk-muluk untuk jadi, tapi, entah mengapa, mungkin sudah takdir, dia lulus. Bahkan dari sebelas yang diterima, nama dia berada di peringkat ketiga. Sebuah prestasi yang sempat tidak dia percayai. Tapi itulah kenyataan yang dia alami. Tugaspun dia jalani, yaitu di SMP N 2 Kedungjati. Sebuah sekolah yang pernah dia datangi, karena dia pernah ingin mutasi dari SMP N 13 Semarang dan jika mutasi ingin ditugaskan di sekolah tersebut. Namun SK yang keluar di SMP N 2 Tegowanu. Baru sebelas tahun berikutnya terkabulkan dia tugas di SMP N 2 Kedungkati, tapi sebagai Kepala Sekolah. Jadi, saat itu walaupun dulu pernah jadi penjual tempe kripik, pernah jadi staf tata usaha, juga pernah jadi wartawan, dan pernah jadi tukang pel masjid. Tugas yang dia tulis terakhir ini yang paling mengesankan, sehingga melekat predikat tukang pel masjid menjadi Kepala Sekolah.
Tapi bekerja harusnya tidak harus diobesikan upah sebagai materi, tapi prinsip bekerja sebagai ibadah akan lebih membawa pada kenyamanan dalam kehidupan. Tetapi ibadah itu harus dialaksnakan dengan penuh keikhlasan. Tidak bisa beribadah atau beramal seikhlasnya tapi beramal dan bekerja harus Ikhlas. Selama tiga tahun setengah dia menjalankan tugas sebagai Kepala Sekolah di SMP N 2 Kedungjati. Ketika memperkenalkan diri pertama kali ada seorang anggota komite sekolah yang mengaku sudah mengenal Namanya. Yaitu sebagai penulis di majalah Gema Bersemi yang diterbitkan oleh Bagian Humas Kabupaten Grobogan. Sebagai Kepala Sekolah yang baru dia banyak tamtangan yang dikemukakakan oelh para guru dan warga Masyarakat. Di antaranya adalah banyaknya sekolah yang berdiri di sekitanya desa tersebut. Tapi dia menganggap sekolah lain itu bukan pesaing tapi justru merupakan partner dalam menjalankan tugas di bidang Pendidikan. Dengan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren di desa tersebut juga sempat terjalin hubungan yang harmonis saat dia bertugas di sana. Sehingga saat itu terwujud sejumlah santri bisa belajar di sekolah dan sejumlah pelajar SMP bisa turut mengaji di pesantren, Dengan cara ini banyak menambah kepercayaan Masyarakat untuk belajar di sekolah.
Pada saat bertugas di SMP N 2 Kedungjati ini dia sempat mendapat undangan dari Kementrian Pendidikan. Saat itu berkumpul di Jakarta Bersama sejumlah Kepala Sekolah dan Pengawas dari berbagai daerah di Indonesia untuk menulis buku. Hasilnya terbit bukunya yang kedua berjudul Perjalanan Orang-orang Khusus Sebelum Kita. Sedang bukunya yang pertama berjudul Ngaji Thoriqoh di Usia Muda sudah terbit sebelumnhya. Setelah 3,5 tahun bertugas di sekolah yang berbatasan dengan kabupaten Boyolali tersebut dia dipindahtugaskan di SMP N 1 Tanggungharjo. Di sini juga punya tantangan yang tidak berbeda. Banyaknya sekolah lain yang berdiri. Peran serta Masyarakat dalam berpartisipasi dalam penyelennggaraan Pendidikan juga menjadi tantangan. Namun dengan pendekatan yang harmonis ternyata kepercayaan Masyarakat bertambah. Buktinya dengan bertambahnya peserta didik yang bersekolah di sini.
Baru dua tahun bertugas di SMP N 1 Tanggungharjo dia dipindahtugaskan di sekolah tempat dia menjadi Guru dulu, yaitu di SMP N 2 Tegowanu. Bertugas di sekolah ini dia banyak mendapat dukungan dari Lembaga Pendidikan di sekitarnya. Baik dari SD, MI sebagai Lembaga Pendidikan di bawahnya maupun beberapa Lembaga Pendidikan berupa Pondok pesantren di sekitarnya. Pondok Pesantren ini yang banyak menerima santri dan mereka juga memerlukan Pendidikan formal. Di SMP N 2 Tegowanu ini banyak menjadi pilihan tempat belajar oleh para santri tersebut. Hal ini terjadi karena telah terjalinnya kerja sama kita dengan Pondok Pesantren tersebut. Dalam bidang Literasi banyak dia usahakan untuk menopang potensi literasi dan numerasi. Di awal-awal bertugas menjadi Kepala SMP N 2 Tegowanu dia oleh Dinas Pendidikan KAbupaten Grbogan dinobatkan Menjadi Kepala Sekolah Penulis Buku Terbanyak Katergori Kepala SMP. Dia berharap bisa mendorong semangat para guru untuk menulis buku sebagi bentuk pengembangan Literasi dan numerasi.
Sejumlah prestasi telah ditorehkan oleh para pelajar di sini, di antaranya adalah Juara renang Tingkat Kabupaten Grobogan. Demikian juga dengan bidang pencak silat dan Msabaqoh Tilawatul Quran juga telah diraih siswa SMP N 2 Tegowanu pada tahun 2024 ini. Itu semua berkat kerja keras dari para guru dan dukungan orang tua siswa dalam memacu siswa berprestasi. Sejumlah guru di sekolah ini yang telah menjadi Guru Penggerak, dua di antaranya telah mendapat tugas menjadi Kepala Sekolah, sebagai bukti prestasi Guru. Namun keterbatasan masih banyak kami punyai sehingga kami belum bisa berbuat banyak seperti sekolah-sekolah lain. Tuturnya merendah dalam menutup pembicaraan.****
