6 Masalah Sistem Reproduksi yang Sering Dianggap Tabu Menurut Dokter

6 Masalah Sistem Reproduksi yang Sering Dianggap Tabu Menurut Dokter

JAKARTA,– Gangguan pada organ reproduksi, baik wanita maupun pria, dapat memengaruhi kualitas hidup dan hubungan pasangan jika dibiarkan.

“Alat vital itu untuk mempertahankan eksistensi umat manusia. Satu-satunya organ yang bisa mempertahankan ya alat kelamin kita,” kata dr. C. Christoper Sunnu, Sp.And, mitra dokter spesialis Halodoc, dalam acara peluncuran HaloIntim di Jakarta, Selasa (16/9/2025).

“Jadi, jika laki-laki, testisnya menghasilkan sperma, sedangkan perempuan ovariumnya menghasilkan serotonin,” lanjutnya.

Berikut beberapa masalah kesehatan organ reproduksi yang sering dianggap tabu menurut dokter.

Masalah organ reproduksi yang sering dianggap tabu

1. Keputihan yang tidak normal

Keputihan sebenarnya wajar, tetapi akan menjadi masalah jika warnanya berubah, berbau, atau disertai rasa gatal.

“Jadi jika ada keputihan, ketika warnanya berubah, tidak lagi jernih, apalagi disertai rasa gatal dan bau, harus segera dikonsultasikan,” kata dr. Gracia Merryane Rauw, Sp.OG, mitra dokter spesialis Halodoc, dalam kesempatan yang sama.

Jika keputihan tiba-tiba berubah menjadi warna kuning, hijau, atau putih susu, segera konsultasikan karena sudah terkena infeksi.

Jika infeksi terus-menerus terjadi, akan menyebabkan infeksi radang panggul.

2. Nyeri haid dan gangguan menstruasi

Banyak perempuan yang masih memandang remeh nyeri haid. Padahal, nyeri yang parah atau pendarahan berlebihan bisa menjadi tanda kista atau miom.

“Perdarahan haidnya sudah tidak wajar, sudah melebihi jumlah yang seharusnya. Yang seharusnya ganti hanya dua hingga tiga pembalut, ini ternyata sudah ganti pembalut 10 kali sehari,” jelas Gracia.

Gangguan menstruasi seperti siklus yang tidak teratur atau perdarahan berlebihan juga merupakan tanda yang perlu diperiksa.

Secara normal, perhitungan dari hari pertama ke hari berikutnya adalah 21-35 hari.

3. Infeksi Menular Seksual (IMS)

Infeksi Menular Seksual (IMS) bisa menyerang siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, dan bahkan bukan hanya mereka yang suka berganti pasangan.

Gejala IMS pada wanita bervariasi, mulai dari keputihan yang tidak normal, nyeri saat buang air kecil, gatal atau perih di area vagina, nyeri saat berhubungan intim, perdarahan di luar siklus menstruasi, hingga nyeri panggul atau area perut bawah.

Pada pria, tipe gejalanya berupa cairan kuning atau putih dari ujung alat kelamin, saat buang air kecil terasa panas dan nyeri, luka pada alat kelamin, lesi atau kista, serta kutil kelamin.

“Sangat penting untuk diagnosis sejak awal. Karena jika terlambat bisa menyebabkan kelainan janin dan menular kepada pasangannya,” kata Sunnu.

4. Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi sering menjadi ancaman bagi para pria.

“Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk memulai atau mempertahankan ereksi, atau ereksinya tidak cukup keras. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan, baik terhadap dirinya maupun pasangannya,” jelas Sunnu.

Menurutnya, gaya hidup tidak sehat, stres, dan merokok dapat memengaruhi kadar testosteron yang berdampak pada ereksi.

Menurut penjelasan Sunnu, sebanyak lima hingga 10 persen disfungsi ereksi terjadi pada pria muda, dan 50 persen terjadi pada pria berusia 50 tahun ke atas.

5. Ejakulasi dini

Sunnu menjelaskan, hubungan seksual idealnya berlangsung lima hingga tujuh menit agar pasangan sama-sama puas.

“Jika pria mengeluarkan sperma atau air mani kurang dari tiga menit dan tidak dapat mengontrolnya, segera periksa ke dokter,” katanya.

Ejakulasi dini bisa menyebabkan ketegangan dalam rumah tangga jika tidak ditangani.

  • Apakah Cuka Apel Dapat Membantu Mengatasi Disfungsi Ereksi?
  • 6 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini, Bisa Dilakukan di Rumah

6. Kesuburan dan kurangnya gairah seksual

Ketidaksuburan pada laki-laki sering disebabkan oleh kualitas sperma yang buruk, jumlah sperma yang sedikit, bentuk sperma yang tidak normal, atau gerakan yang lambat.

Selain itu, rendahnya gairah seksual atau melemahnya syahwat juga perlu diwaspadai.

“Jika dulu usia 17-18 tahun mudah terangsang, tapi di usia 30-40 sudah tidak ada hasratnya, itu harus diperiksa. Mungkin saja kadar testosteronnya rendah,” tambah Sunnu.

Hal itu bisa disebabkan oleh gaya hidup, seperti hidup tidak sehat, merokok terlalu kuat, stres, konsumsi makanan yang tidak sehat sehingga akhirnya hormon testosteronnya rendah serta libido rendah.

Dari enam masalah kesehatan organ reproduksi yang sering terjadi pada perempuan dan laki-laki, dokter sepakat bahwa rasa malu hanya akan membuat kondisi semakin parah.

Oleh karena itu, lebih baik memeriksakan diri ke dokter daripada menunggu komplikasi.

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *